Wulan Ajeng
Fitriani
Jujur Tlah Dikubur
Ibupun ternganga
Tak menyangka
Hidup seberapakah
kita di alam fana?
Mengapa tikus-tikus
liar itu masih berdiri tegak disana?
Bagai pembantu yang
menilap uang majikannya
Nampak kacang yang
lupa kulitnya
Mengendap – endap
mengambil jatah rakyat
Menilap rizki umat
Dan ibu masih
termangu
Patahnya:
Dulu di era Rezim
Soeharto
Kita tentram
makmur, sejahtera selalu
Serasa angin di
udara yang mengalun merdu
Berseok-seok
bersama mentari yang mungil
Di bawah purnama
yang rindang
Jauh dari masa ini
Tekanan dari
pemerintah yang otoriter
Dan kondisi ekonomi
yang krisis
Membuat tikus-tikus
berkeliaran dimana-mana
Hukum tak membuat
mereka jera
Bahkan tikus semakin
merajalelara
Kebohongan
dipelihara dan dibangga
Kejujuran sia-sia
dikubur masa
Sungguh, ibu turut
berduka
Indonesia tak lagi
mengenal kita
Indonesiaku yang
dulu, dimana?