Gia Setiawati Gheeah
LEMBAR CATATAN AISYAH
Cha, pagi ini letakkan
matamu di rak lemari depan kamar. akan ibu simpan ketika pulang dari pasar. dan
bangun sebelum embun embun gugur dari daun. membawa pagi pergi. sebelum
semerbak melati benar benar tercium oleh tidurmu
Cha, jika kau bangun
segeralah berseragam. jangan lupa bekal yang ibu simpan waktu malam. Selalu kau
kenali ditiap harian. sebelum kau kemasi ceceran tinta yang tumpa di catatan
akhir malam. Bawa setelah kaun bangun sebab lembar lembar itu akan menjadi
matahari. Memijari sepanjang jalan. Penuh tanda larangan dan tanda hati hati.
kau harus lebih sabar dari ibu, lebih tegar dari matahari yang tiada henti
menemani. juga lebih harum dari melati yang kau sirami air wudhu tiap pagi
karna ibu tahu kekuatan itu selalu lahir dari lembar lembar itu
Cha, ibu slalu tahu. kau
suka bermain dengan anak anak sebayamu yang duduk di emperan jalan. mereka
menunggu hari hari tergelinjir di wajah kusam mereka atau pada debu-debu yang
menempel di mobil mewah. kau selalu bercerita tentang tempat tinggal yang
katamu bukan rumah. bukan tembok. bukan atap. juga bukan halaman yang sejuk
kecuali sepenuh ikhlas yang masih mawar
terus mekar di raut mereka. lalu kau letakkan senyum itu di depan pintu
rumah, di halaman, di kamar bahkan di meja makan juga pada selember kertas yang
jadi kebiasaan
Akhirnya kau begitu suka
menabung meski tabungan itu selalu tak
menjadi boneka kesukaanmu atau alat alat sekolah yang kau minta pada ibu. kau
akan lebuh tersenyum ketika uang uang itu menjadi senyum di wajah mereka.
setelah itu kau pasti pulang lalu bercerita pada ibu tentang senyum itu.
tentang binar yang benar benar bersinar di wajah mereka juga di wajahmu. Semua
itu selalu membuat ibu lega dan haru. Juga pada halaman berikutnya lembar
lembar catatan.
Cha, putriku. ibu masih
akan selalu melarangmu bertanya banyak hal ketika kita menikmati liburan akhir
semester. Kau memilih menghabiskannya ditempat bermain. kita pasti melewati
jalan jalan yang penuh orang orang,
gedung gedung bertingkat, juga jejeran mobil mobil mewah mengkilat.
kaupun tertegun saat kedua kornea menyusuri bagian demi bagian. lalu pertanyaan
itupun selalu dengar :
“ bu gedung gedung ini
indah, mobil mobil itu bagus bagus. Namun debu masih tetap berterbangan di
udara. Kenapa bu? “
“hingga mereka melukis
langit biru di bawah jambatan yang penuh debu. Hanya untuk melihat matahari
masihkah sama?”
sekarang pun ibu hanya
mampu tersenyum agar berhenti bertanya. karna nanti kau akan dapati sendiri
semua jawaban itu. Ibu lebih suka kau diam dan menulis lagi lembar catatan
catatan berikutnya
dan sekarang usiamu
hampir separuh dari usia ibu, ibu tahu kau sudah melihat sendiri warna hitam
putih juga abu abu yang kadang kau temui di liku jalan menuju rumah. Atau
separuh waktu yang tanpa jeda tak berhenti menujumu. ratusan lembar catatan
yang kau simpan di rak lemari belajar bersama segala kemelut haru, susah senang
yang memoles putihnya. selalu ibu buat sampulnya di halaman depan tiap doa.
satu hari nanti semoga ibu bisa
menemanimu membuka kembali lembar lembar itu. saat segala bintang berpijar
dalam genggaman dan kau menjadi malam.
tempat bintang bulan bercerita terang. pada masa ketika semua mata
menatapmu dengan tatapan bunga yang
harum.
Kotamobagu,
30 November 2013