Dian Hartati
Karamah 1
budak batu
dihapusnya peluh
ketika matahari membakar
hanya berkawan sunyi
kau tenggelamkan diri
melantunkan nama tuhanmu
sepanjang waktu
tak ada jeda
malam mengantarkan gigil
tak juga tidur
gamang
menanti kabar
siapa majikan berikutnya
“apakah aku
mengenalinya?”
barangkali, malaikat
berdatangan
setiap malam
menujumkan cahaya ke
wajahmu
hingga terbebaskan
pintu pun terbuka
kau
berlari
berlari
berlari
menuju padang
meninggalkan segala bara
menjadi diri sendiri
pilihan batu
perjalanan dimulakan
menjemput cinta
karena kerinduan
begitu bergemuruh
tak terkendali
barat atau timur
selatan bahkan utara
kota
kau tak pernah
kehilangan arah
begitu tegas melangkah
padang pasir
lenyau angin
jalanan gasal
tak hentikan
gerimit bibirmu
nama tuhan
kau sebut
kau panggil
tak berkesudahan
syair batu
malam menghening
air mata terus mengalir
kau perawan suci,
memilih hidup sendiri
meneguhkan jalan
meninggalkan keindahan
menjauhkan
perkara manusia
mengejar kekasih
hingga genangan di
sujudmu
menjadi kolam
jurang antara siang dan
malam
“aku resah, takut
ditinggalkan
inilah malam
tempat aku bersatu
denganmu
menggenapkan semesta
melepaskan segala cinta
padamu
bintang-bintang tak
hiraukan
aku melesat
menjauhkan mimpi
berdamai denganmu
tuhanku
sungguh
karena engkaulah
aku membakar surga
menjadikan istana mimpi
hanya bualan semata
rengkuh aku
jadi kekasih abadi”
Karamah 2
#1#
di rumah
tiada pelita, bahkan
kendi air
kau melupakan hari tanpa
makan
puasa katamu
menghapuskan segala
salah
kau yang dibalut karunia
segala kesabaran
hitunglah roti itu
dari dua menjadi delapan
belas
dari dua puluh menjadi
dua
sungguh matematika yang
membingungkan
kau hanya tersenyum
inikah yang kau minta
pada tuhan
kurasa tidak
sungguh cukup bagimu
menanak batu
membumbuinya dengan doa
harapan
dan rasa takut
#2#
di kamar
kau dan batu bata
berkawan setia
menutup mata
hingga berbuka
kembali
kau dan batu bata
tempat risau paling lena
takut tuhan pergi
dan tangismu berderai
lagi
tak ada dirimu
tak ada tuhan
tak ada kesaksian
seluruh indra
merancang resah
#3#
berkisahlah para
pendatang
mengantarkan bantuan
rabi’ah katakan apa
maumu
pilih apa yang kau mau
kau terdiam
menduga diri
membakar iri
amarah
ah, tak ada rasa
seluruhnya lunas
demi cinta
tuhan
-ku