Mengucapkan

Mengucapkan

Gia Setiawati Gheeah : LEMBAR CATATAN AISYAH

Gia Setiawati  Gheeah

 LEMBAR CATATAN AISYAH

Cha, pagi ini letakkan matamu di rak lemari depan kamar. akan ibu simpan ketika pulang dari pasar. dan bangun sebelum embun embun gugur dari daun. membawa pagi pergi. sebelum semerbak melati benar benar tercium oleh tidurmu

Cha, jika kau bangun segeralah berseragam. jangan lupa bekal yang ibu simpan waktu malam. Selalu kau kenali ditiap harian. sebelum kau kemasi ceceran tinta yang tumpa di catatan akhir malam. Bawa setelah kaun bangun sebab lembar lembar itu akan menjadi matahari. Memijari sepanjang jalan. Penuh tanda larangan dan tanda hati hati. kau harus lebih sabar dari ibu, lebih tegar dari matahari yang tiada henti menemani. juga lebih harum dari melati yang kau sirami air wudhu tiap pagi karna ibu tahu kekuatan itu selalu lahir dari lembar lembar itu

Cha, ibu slalu tahu. kau suka bermain dengan anak anak sebayamu yang duduk di emperan jalan. mereka menunggu hari hari tergelinjir di wajah kusam mereka atau pada debu-debu yang menempel di mobil mewah. kau selalu bercerita tentang tempat tinggal yang katamu bukan rumah. bukan tembok. bukan atap. juga bukan halaman yang sejuk kecuali sepenuh ikhlas yang masih mawar  terus mekar di raut mereka. lalu kau letakkan senyum itu di depan pintu rumah, di halaman, di kamar bahkan di meja makan juga pada selember kertas yang jadi kebiasaan

Akhirnya kau begitu suka menabung meski tabungan itu selalu  tak menjadi boneka kesukaanmu atau alat alat sekolah yang kau minta pada ibu. kau akan lebuh tersenyum ketika uang uang itu menjadi senyum di wajah mereka. setelah itu kau pasti pulang lalu bercerita pada ibu tentang senyum itu. tentang binar yang benar benar bersinar di wajah mereka juga di wajahmu. Semua itu selalu membuat ibu lega dan haru. Juga pada halaman berikutnya lembar lembar catatan.

Cha, putriku. ibu masih akan selalu melarangmu bertanya banyak hal ketika kita menikmati liburan akhir semester. Kau memilih menghabiskannya ditempat bermain. kita pasti melewati jalan jalan yang penuh orang orang,  gedung gedung bertingkat, juga jejeran mobil mobil mewah mengkilat. kaupun tertegun saat kedua kornea menyusuri bagian demi bagian. lalu pertanyaan itupun selalu dengar :
“ bu gedung gedung ini indah, mobil mobil itu bagus bagus. Namun debu masih tetap berterbangan di udara. Kenapa bu? “
“hingga mereka melukis langit biru di bawah jambatan yang penuh debu. Hanya untuk melihat matahari masihkah sama?”
sekarang pun ibu hanya mampu tersenyum agar berhenti bertanya. karna nanti kau akan dapati sendiri semua jawaban itu. Ibu lebih suka kau diam dan menulis lagi lembar catatan catatan berikutnya

dan sekarang usiamu hampir separuh dari usia ibu, ibu tahu kau sudah melihat sendiri warna hitam putih juga abu abu yang kadang kau temui di liku jalan menuju rumah. Atau separuh waktu yang tanpa jeda tak berhenti menujumu. ratusan lembar catatan yang kau simpan di rak lemari belajar bersama segala kemelut haru, susah senang yang memoles putihnya. selalu ibu buat sampulnya di halaman depan tiap doa. satu hari nanti semoga ibu  bisa menemanimu membuka kembali lembar lembar itu. saat segala bintang berpijar dalam genggaman dan  kau menjadi malam. tempat bintang bulan bercerita terang. pada masa ketika semua mata menatapmu  dengan tatapan bunga yang harum.


Kotamobagu, 30 November 2013

Dian Hartati: Rindu Milik Ibu

Dian Hartati
Rindu Milik Ibu

kubayangkan ibu yang memendam rindu

setelah hari kelahiran
anak-anak hanya menyusu
tak tahu dari mana peluh dicecap
hanya terdengar isak tangis pada pusat malam

kubayangkan ibu yang memendam rindu

merapikan setiap kenangan
meretas kehidupan masa datang

senja demi senja ditinggalkan almanak
tanggal demi tanggal luruh
semua hanya membayang di setiap ingatan
menanti kepastian untuk berjumpa

kubayangkan ibu yang memendam rindu

melepas kepergian anak ke tanah rantau
setiap malam hanya menunggu mimpi
berharap bertemu di lintasan dimensi

selalu kubayangkan wajah ibu
memendam rindu
menguntai doa di setiap malam

duduk di muka pintu
dan berharap seseorang mengetuknya














Dian Hartati : Karamah

Dian Hartati

Karamah 1

budak batu
dihapusnya peluh
ketika matahari membakar
hanya berkawan sunyi

kau tenggelamkan diri
melantunkan nama tuhanmu
sepanjang waktu
tak ada jeda
malam mengantarkan gigil
tak juga tidur
gamang
menanti kabar
siapa majikan berikutnya
“apakah aku mengenalinya?”

barangkali, malaikat berdatangan
setiap malam
menujumkan cahaya ke wajahmu
hingga terbebaskan
pintu pun terbuka

kau
berlari
berlari
berlari
menuju padang
meninggalkan segala bara
menjadi diri sendiri

pilihan batu
perjalanan dimulakan
menjemput cinta
karena kerinduan
begitu bergemuruh
tak terkendali

barat atau timur
selatan bahkan utara kota
kau tak pernah kehilangan arah
begitu tegas melangkah

padang pasir
lenyau angin
jalanan gasal
tak hentikan
gerimit bibirmu
nama tuhan
kau sebut
kau panggil
tak berkesudahan

syair batu
malam menghening
air mata terus mengalir

kau perawan suci,
memilih hidup sendiri
meneguhkan jalan
meninggalkan keindahan

menjauhkan
perkara manusia
mengejar kekasih
hingga genangan di sujudmu
menjadi kolam
jurang antara siang dan malam

“aku resah, takut ditinggalkan

inilah malam
tempat aku bersatu denganmu
menggenapkan semesta
melepaskan segala cinta padamu
bintang-bintang tak hiraukan
aku melesat

menjauhkan mimpi
berdamai denganmu
tuhanku
sungguh
karena engkaulah
aku membakar surga
menjadikan istana mimpi
hanya bualan semata
rengkuh aku
jadi kekasih abadi”

Karamah 2

#1#
di rumah
tiada pelita, bahkan kendi air
kau melupakan hari tanpa makan
puasa katamu
menghapuskan segala salah

kau yang dibalut karunia
segala kesabaran

hitunglah roti itu
dari dua menjadi delapan belas
dari dua puluh menjadi dua
sungguh matematika yang membingungkan
kau hanya tersenyum

inikah yang kau minta pada tuhan
kurasa tidak
sungguh cukup bagimu
menanak batu
membumbuinya dengan doa
harapan
dan rasa takut

#2#
di kamar
kau dan batu bata
berkawan setia

menutup mata
hingga berbuka
kembali

kau dan batu bata
tempat risau paling lena
takut tuhan pergi
dan tangismu berderai lagi

tak ada dirimu
tak ada tuhan
tak ada kesaksian
seluruh indra
merancang resah


#3#
berkisahlah para pendatang
mengantarkan bantuan
rabi’ah katakan apa maumu
pilih apa yang kau mau

kau terdiam
menduga diri
membakar iri

amarah
ah, tak ada rasa
seluruhnya lunas
demi cinta
tuhan
-ku








DEADLINE 10 DESEMBER 2013 IKUTI DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN INDONESIA

DEADLINE 10 DESEMBER 2013
IKUTI DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN INDONESIA
Sumbangsih puisi untuk Indonesia
KABAR GEMBIRA UNTUK PEREMPUAN PENYAIR INDONESIA

MENYAMBUT HARI IBU 22 DESEMBER 2013
HIMPUNAN MASYARAKAT GEMAR MEMBACA (HMGM) INDONESIA
MENYELENGGARAKAN DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN PENYAIR INDONESIA
SELEKSI PUISI UNTUK ANTOLOGI PUISI “IBU INDONESIA”
BERTEMA:
“SAKSI IBU MELIHAT INDONESIA DI ERA REFORMASI”
Sarat Peserta :
Penyair adalah berjenis kelamin perempuan
Kirimkan 2 buah puisi terbaru sesuai tema pada

:agus.warsono@ymail.com

atau inbok langsung ke : grup facebook Sastrawan Indonesia.
berikut biodata singkat dan fotho, dan alamat tempat tinggal.
Puisi diterima akan ditampilkan dalam grup facebook Sastrawan Indonesia
Puisi harus masuk paling lambat 10 Desember 2013
Dewan penyeleksi terdiri dari 2 sastrawan 2 sastrawati terkenal yang akan ditunjuk HMGM Indonesia
100 puisi terbaik lolos seleksi menjadi isi buku antologi Ibu Indonesia
Pengumuman lolos seleksi puisi tanggal 10 Desember 2013 melaluiwww.ayokesekolah.com dan majalahsuluh.blogspot.com
Peserta dengan puisi lolos seleksi akan dikirim 2 buah buku antologi puisi tersebut kealamat peserta fia pos tertanggal 22 Desember 2013.
Buku antidak diperjual-belikan tetapi untuk dokumentasi Penyair Perempuan Indonesia di Perpustakaan HMGM Indonesia yang beralamat di Jl. Alamanda Merah No. 6 Perumahan Citra Dharma Ayu (Sanggar Sastra Meronte Jaring} Indramayu-45211
Peluncuran buku akan dilaksanaan secara sederhana dan ditentukan waktunya kemudian.
Kabar kegiatan ini selanjutnya akan disampaikan secara berkala melalui grup facebook Sastrawan Indonesia.
Peserta tidak dikenakan biaya apa pun (GRATIS)

Wulan Ajeng Fitriani Jujur Tlah Dikubur

Wulan Ajeng Fitriani


Jujur Tlah Dikubur

Ibupun ternganga
Tak menyangka
Hidup seberapakah kita di alam fana?
Mengapa tikus-tikus liar itu masih berdiri tegak disana?
Bagai pembantu yang menilap uang majikannya
Nampak kacang yang lupa kulitnya
Mengendap – endap mengambil jatah rakyat
Menilap rizki umat

Dan ibu masih termangu
Patahnya:
Dulu di era Rezim Soeharto
Kita tentram makmur, sejahtera selalu
Serasa angin di udara yang mengalun merdu
Berseok-seok bersama mentari yang mungil
Di bawah purnama yang rindang

Jauh dari masa ini
Tekanan dari pemerintah yang otoriter
Dan kondisi ekonomi yang krisis
Membuat tikus-tikus berkeliaran dimana-mana
Hukum tak membuat mereka jera
Bahkan tikus semakin merajalelara
Kebohongan dipelihara dan dibangga
Kejujuran sia-sia dikubur masa
Sungguh, ibu turut berduka
Indonesia tak lagi mengenal kita
Indonesiaku yang dulu, dimana?


Putri Akina : TERIAKAN LIRIH

Putri Akina

TERIAKAN LIRIH

Sengit mentari memancar di atas awan
Sepasang mata menyipit
Di tenggah arus kemacetaan jalan
Memantau derasnya keegoisan
Tak ada senyum hangat menyapa
Manusia menggila dengan hidupnya
Tercabik kenyamanan hidup

Berlinag air mata sang ibu
Malu lihat kebusungan dada para buntutnya
Wajah terpasang memelas
Di belakang seringai sinis  mulai Nampak
Menghina tanpa merajuk

Suara lirih menggema
Tak terima dengan apa yang didapatkan
Meminta supaya disanjung

Tap tak tahu apa arti  sanjungan itu..
TakHenti
Waktutakberhentiberdetak





Nieranita Puisi Untuk Anak Bangsa

Nieranita

Puisi Untuk Anak Bangsa

Ketika aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang bersemedi di dalam kaleng-kaleng soda, sedang bersembahyang di kolong-kolong jembatan Atau mungkin sedang pulas ditumpukan papan iklan Lantas siapa yang akan membaca sajak keluh kesah negeri ini ?
Ketika aku menulis puisi ini Kau mungkin sedang ketakutan

Menyaksikan kebakaran hutan, sedangkan di warung pojok sebakul nasi hanya diasapi puntung rokok Bahan bakar hanya membakar dada demonstran
Aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang gelisah dalam kecemasan Ketika tiang listrik lebih tinggi daripada tiang bendera Merah putih menjadi warna hitam di limbah-limbah pabrik yang lupa jalan pulang


Aku menulis puisi ini Mungkin kau sedang terheran-heran Para pembesar memperbesar kuak saku mereka Gedung-gedung raksasa dihuni rakyat-rakyat sengsara Rumah-rumah kardus mendengus Oh Nak, aku takut puisiku hangus
Kuwait 3 November 2013

















Mariyana Hanafi : Ibu di balik rindu

Mariyana Hanafi

Ibu di balik rindu

nak,duduklah di sini
kita mengeja senja lagi,seperti dulu
ketika kau merangkak dan terus menatapku
seakan kau meminta restu untuk bergerak

nak, aku rindu memangkumu
menyenandungkan romantisme burung-burung
diantara lirih detak juang yang kau dendangkan
aku rindu kamu ,nak

kini aku tak lagi mengenalimu
mana senayan yang dulu kita agungkan,sayang?
aku melihatnya hingar bingar tanpa sepakat
inikah wajah reformasi yang kau banggakan?

nak, mendekatlah
aku ingin mengecupmu dengan hangat
dengan semangat yang dulu berkibar gagah
seperti kibar sang saka di ujung langit
kemarilah nak,ibu menunggumu

Banjarmasin,29 November 2013





















Mariyana Hanafi: Elegi kekosongan ibu

Mariyana Hanafi
Elegi kekosongan ibu
ibu menatap kosong
terdiam di depan kain yang masih berayun
dia mencari putranya
yang dulu sempat ditimang kebersahajaan
tapi kini,entah dimana

oh ibu,tak perlu menunggu anakmu
mungkin dia berpesta di geliat waktu
merayakan titik-titik kemenangan
atau sedang larut pada euphoria reformasi
sudahlah,lebih baik lelap saja pada malam yang masih setia menemanimu

ibu menatap kosong
hatinya pilu,lumpuh
tak lagi mampu mengenali anaknya
dia lupa cara disayangi tapi mampu mengasihi
meski kini keriput menghampirinya
oh ibu,senjamu kini menanti


Banjarmasin,29 November 2013

Diana Roosetindaro : MONYET BERDASI

Diana Roosetindaro:

MONYET BERDASI

aku lihat monyet berdasi di lembaga kita,
 memperebutkan pisang 
mereka berjingkrak kegirangan 
ketika kota menjadi ladang pisang


Depok, 29 Mei 2013 

Diana Roosetindaro : HILANG DALAM SEBUAH ATLAS

Diana Roosetindaro

HILANG DALAM SEBUAH ATLAS

kesombongan telah meruntuhkan sebuah kota sungai-sungai menghitam bumi penuh sampah aliran laju kendaraan tiada henti ini adalah kota yang hina bukan karena perempuan lacur yang tiap siang-malam menjajakan diri tapi, karena elit berdasi sang penguasa tak lagi peduli runtuh, mati adalah kota yang hilang tak ada lagi meskipun dalam sebuah atlas

Depok, 12 September 2013


NEGERI (YANG) HILANG II karya Roosetindaro Baracinta

NEGERI (YANG) HILANG II
ibuku, ibu bumi menangis tanpa isak airmatanya merah, darah luka di sekujur tubuh sayatan pedih, hijau yang hilang ibuku, ibu bumi tiada kesempatan napas lagi asap-asap menyesakan keadilan yang mati ibuku, ibu bumi tanpa daya, tercerabut nyawa oleh elit berdasi luka di atas luka negeri yang hilang
Tangerang, 12 Juli 2013

NEGERI (YANG) HILANG I karyaRoosetindaro Baracinta

NEGERI (YANG) HILANG I
inikah wajah Indonesia muram, pucat pasi bau anyir darah di setiap penjuru inikah tubuh Indonesia begitu dekil dan kotor sumpah serapah terdengar membahana inilah rakyat Indonesia yang mati sebelum ajal
Tangerang, 17 Juni 2013

Sri Sunarti : Jakarta Gelanggang Demonstrasi

JAKARTA GELANGANG DEMONSTRASI
Karya : Sri Sunarti Jakarta, 2012

Jakarta Gelanggang Demonstrasi
Ibu kota wajah Indonesia
Demo wajah Jakarta
Ingat Jakarta ingat demonstrasi
Karena Jakarta Ibukota Wajah Indonesia
Hari ini gelanggang sepi tapi
besok Demontran ke gelanggang Jakarta
Hari ini polisi bisa minum kopi dan sarapan pagi
besok tak mungkin sikat gigi
karena langsung kegelanggang
Jakarta menjadi sarapan pagi
Jakarta wajah seribu wajah
Hari ini mungkin menonton tv bersama
besok tak ada tv
Jakarta menjadi tv siaran langsung
Gelanggang demonstran Indonesia
Jakarta kita milik demonstran.

Sri Sunarti : KANJENG BUPATI KEN AROK

KANJENG BUPATI KEN AROK

Ken Arok tamatan fakultas ilmu sosial
mahasiswa muda yang magang di terminal
berijazah tatto di bahu kirinya
bukan gambar oplet tapi stir kapal perang
karena memang pemimpin diantara pemimpin
pedagang asongan sampai copet terminal
pengamen jalanan sampai jambret perjalanan
tukang sapu kolong jok sampai bajing luncat
Ken Arok setara Kepala Stasiun Besar
dengan korpnya sendiri berseragam peniti
Direformasi malah nyalon bupati
Ijazahnya yang melekat, melekat pula ilmunya
jual beli, lelang, kredit jabatan ia tawarkan
bahkan ada yang membeli borongan
Jadilah Kanjeng Bupati Ken Arok
Jangan tertawa, ternyata pergaulan sama seperti terminal
tak ragu bergaul dengan intelektual, Anggota DPR, Gubernur, Metri dan Presiden
Ken Arok yakin mereka bertatto kalajengking
Aku tak merubah sejarah kata Kanjeng Bupati Ken Arok
Tapi atasanku merubah nama
fakultasnya Makelar Proyek Nusantara menjadi Pembinaan Pelaksanaan Proyek Nusantara
jurusan Tipu-tipu diganti menjadi Jurusan Perencanaan
Kanjeng Bupati Ken Arok merlihatkan ijazahnya yang melekat di pundaknya
Aku bangga dengan almamaterku

Sus S Hardjono PUISI REFORMASI SAKSI BISU JEMBATRAN SEMANGGI

Sus S Hardjono

PUISI REFORMASI

SAKSI BISU JEMBATRAN SEMANGGI

mereka yang tertembak mati
masih ingatkan tentang trisakti

Di bawah kepak Elang
Menyinggung langit ibumu
Airmatanya saksi bisu sebutir peluru
Bersarang di kepelamu

Demi kebebasan ataupun merdeka
Mimpi mimpi reformasi
Di bawah jembatan trisaksi
Mereka bersaksi atas nama bendera

Kini mengapa sibuk sendiri
Dalam tato tubuhmu penuh partai
Bulan dan bintang , matahari dan bumi
Sementara mereka pun tak peduli

Tetap menuliskan nurani di batas jiwa
Yang tak ingin kau kuasai
Dijajah bangsa sendiri
Cukong cukong dan kapitalisasi

Demi kursi dan kuasa itu
Kau pertaruhkan dalam kuburan sunyi
Mereka pahlawan tanpa nama
Prajurit yang tak bernama
Memanggul api reformasi

Sragen 2013-10-30

DI BAWAH LANGIT REFORMASI

Mereka merobek robek warna
Kulit dan kursi
Bicara untuk dealer dealer dan simpanan hari tua

Lupa pada kata pertama bagaimana mereka merebutnya
Kemerdekaan yang kau hirup kini

Pada warna benderamu
Di atas jembatan semanggi
Darah bersimbah

Tegar kokoh menaiki tiang
Dari jauh terdengar suara koor
Halo halo Bandung
Tetapi di sini telah bebas negeri kita
“mari bung rebut kembali !”

Jembatan Semanggi
Saksi bisu tumpah darah demi warna merah
Dan putih tulangmu
Masih ingatkah kau ?

Mengapa benderamu hanya untuk kaum dan golonganmu
Kursimu yang kau pertaruhkan ribuan nyawa itu

Ibumu bersaksi
Kau anak-anak yang tak ingkar janji

Inikah mimpi mimpi
Pahlawan tanpa nama dulu
Inikah kau yang mengangkat bedil dan mesiu
Dan mereka yang terkubur pelor di tanah bangsa sendiri

Serdadu telah pergi , penjajah reformasi beraksi
telah kembali
Tetapi mengapa masih dijajah kroni kroni
Kolusi , korupsi dan mengusir anak anak di bawah jembatan semanggi kini
Jangan sembunyi di apartemen mewah dan gedung tinggi
Kautimbun gading dagingkualitas tinggi
Lihatlah Bunda bersaksi
Otonomi mengatur hidup sendiri
Kutagih janjimu
desentralisasi yang dulukau sumpahi

Sragen , 2013-10-30

Ardi Susanti BICARALAH NAK


Ardi Susanti

BICARALAH NAK

Bicaralah nak
Ketika hak-hak telah dikebiri
Ketidakadilan telah demikian meraja
Keangkaramurkaan telah menjadi alibi

Bicaralah nak
Ketika para penguasa sudah
semena-mena
Melukis nista didada
Mengukir bara di jiwa

Bicaralah nak
Ketika ketimpangan melanda langitmu
Menyesak melukai hati
Menggoreskan lara berkepanjangan

Bicaralah nak
Jangan biarkan mereka mengotori ruang kita
Dengan ambisi murahan yang meraja
Demi menggemukkan hasrat semata

Bicaralah nak
Lemparkan seluruh idealismu
Keluarkan semua orasimu
Teriakkan segala kegelisahanmu

Bicaralah nak
Biar mereka muntahkan apa yang telah tercuri
Dari pembohongan manis setiap hari
Dengan dalih mencerdaskan anak
negeri
Dengan alasan meningkatkan
kepandaian bermimpi

Bicaralah nak
Karena hati nurani telah terkikis
Oleh iming-iming kemewahan
Mereka berlomba meraup rupiah
Dari status sekolah elit gedongan
Dari bulir keringat kalian

Bicaralah nak
Karena janji sudah terlupakan
Kode etik bahkan terselip dilaci usang
Terlupakan oleh cicilan mobil kreditan

Tulungagung, 2011
AKU BERSENANDUNG

Aku bersenandung
Tentang gemulai bintang
Yang bersandar manja pada rembulan

Aku bersenandung
Tentang kerling genit kelelawar
Yang mencicipi keperawanan buah jambu

Aku bersenandung
Tentang hembus binal sang bayu
Yang menyetubuhi ranumnya dedaunan

Aku bersenandung
Tentang sebatang sepi
yang bermain dirumah hati

Tulungagung 2013

Rofiah Ross mereka lupa dikasih uang ibu

Rofiah Ross
mereka lupa dikasih uang ibu
Sejak anak-anak berteriak menuntut keadilan
berlarian di jalan
merusak lambang-lambang ketimpangan
menghancurkan gedung-gedung
membubarkan kelompok kapital
merubah aturan undang-undang kepentingan
Ternyata Indonesia dulu dan sekarang sama
tak ada merubah warna
tak ada merubah cuaca
tak ada tawa
lelucon belaka
guyon nasional
humor basi tadi malam
oleh pelawak-pelawak kawakan
Sejak anak-anak menikmati roti reformasi
mereka lupa ubi
sejak anak anak duduk manis di bangku kasir
mereka lupa dikasih uang ibu
jakarta 2013

Haryatiningsih: kerjamu sis-sia

Haryatiningsih

Tadinya ibu senang
kalian bertambah dewasa
mau mengerti sesama
memahami alam
memperbaiki sejarah dusta
menangkap maling
memberi fakir
Namun setelah 10 tahun gonjang-ganjing
pepesan kosong karena dimakan kucing garong
tadinga ibu suka
kalian bekerja
akal sehatmu dipercaya
bajumu kotor bekas lembur
rambutmu rapih disisir jambul, memimpin rapat minggon
kalian memang bohong
kerjamu sis-sia
Cirebon 2010

Ade Suryani :kalian memang sudah mengalami sengsara

Ade Suryani 
kalian memang sudah mengalami sengsara
Ibu lupa nak
ibu sudah tua
dari dulu ibu sengsara
satu ibu yang suka
ibu terima dana kaum miskin dikala ibu tak memasak
namun kini tiada lagi
ia menyangka ibu sudah kaya
karena akan-anak pandai mencari harta
tak dapat ibu mengawasi mereka
harta apa si bungsu didapat
lalu si sulung membelikan ibu rumah di jalan berisik ramai
tambah penat ibu tinggal di sana
si penengah menjemput ibu dengan mobil baru
melihat sebuah bukit
hutan tanaman dibeli bulan kemarin
katanya akan dibangun rumah pesinggahan
ibu sudah lupa lagi
waktu anak-anak kecil
mencari kayu bakar
memanen padi milik orang
berjalan bertabur tangis
ibu lupa
kalian memang sudah mengalami sengsara

Karawang 2013

Rofiah Ross: Mereka Lupa Dikasih Uang Ibu

 Rofiah Ross

Mereka Lupa Dikasih Uang Ibu 


Sejak anak-anak berteriak menuntut keadilan
berlarian di jalan
merusak lambang-lambang ketimpangan
menghancurkan gedung-gedung
membubarkan kelompok kapital
merubah aturan undang-undang kepentingan
Ternyata Indonesia dulu dan sekarang sama
tak ada merubah warna
tak ada merubah cuaca
tak ada tawa
lelucon belaka
guyon nasional
humor basi tadi malam
oleh pelawak-pelawak kawakan
Sejak anak-anak menikmati roti reformasi
mereka lupa ubi
sejak anak anak duduk manis di bangku kasir
mereka lupa dikasih uang ibu
jakarta 2013